Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Agustus 2017 0 komentar

Rosita dan Pemberitaan Media Soal Bunuh Diri

Rosita (16), remaja yang baru saja lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Tumpang ditemukan tewas di dalam kamar rumahnya di Dusun Glendangan, Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (28/7/2017) sekira pukul 05.00 WIB. Almarhum pertama kali ditemukan tewas oleh ibunya, Wijiyati yang akan membangunkannya.
Rabu, 24 Mei 2017 0 komentar

Tentang Kekalahan dan Wasit Liga 3

Ofisial dan pemain Persikoba Batu langsung mengerubuti wasit Ahmad Sajidin usai dia meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Mereka merasa tidak puas dengan kepemimpinan wasit asal Gresik ini dalam laga tandang menghadapi tuan rumah Persema Malang di Stadion Gajayana Malang, (17/5/2017) petang lalu.
Minggu, 25 Desember 2016 0 komentar

Yuk Jadi Jurnalis yang Adil Sejak dalam Pikiran

Pagi tadi saya sudah persiapkan untuk meliput Misa Natal, Minggu (25/12). Pukul 07.54 saya berangkat dari kos di Jalan Laksamana, Baktiseraga mengendarai sepeda motor menuju Gereja Katolik Santo Paulus di Jalan Kartini Singaraja yang sesuai jadwal mulai melaksanakan Misa Natal pukul 08.00. Saya memulai peliputan dengan mengambil foto, mendengarkan pastur, berbincang dengan jemaat, mengamati suasana untuk dijadikan beberapa angle berita.

Saya yang kebetulan dilahirkan sebagai seorang Muslim tidak hirau dengan Fatwa MUI yang menyatakan haram turut berpartisipasi dalam perayaan Natal. Sebagai seorang jurnalis, saya harus independen dan melepaskan seluruh identitas apapun yang melekat dalam diri saya selain identitas jurnalis. Agama saya saat menjalankan kerja jurnalistik adalah jurnalisme, seperti judul buku yang ditulis Andreas Harsono.

Sabtu, 17 Desember 2016 0 komentar

Kisah Tentang Eko Patrio, Berita Hoax dan Jurnalis

Kisah tentang Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio yang dipanggil Bareskrim Mabes Polri menjadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir ini. Anggota DPR RI yang juga seorang artis itu diminta polisi untuk mengklarifikasi pernyataannya di media online yang menyebut bahwa penangkapan teroris bom panci oleh polisi di Bekasi adalah pengalihan isu.

Di berita online tertulis pernyataan Eko yang menyebut penangkapan teroris beserta barang bukti bom panci adalah skenario yang dilakukan polisi untuk mengalihkan isu dugaan penistaan agama oleh Ahok. Polisi memanggil Eko pada Kamis (14/12/2016) sebagai saksi dugaan tindak pidana kejahatan terhadap Penguasa Umum Pasal 207 KUHP, dan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE. Baca: Gara-gara Bilang Pengungkapan Teroris Pengalihan Isu Kasus Ahok, Eko Patrio Diperiksa Polisi
Selasa, 11 Oktober 2016 0 komentar

Apa Beda Wartawan dengan Buzzer?

Beberapa bulan jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 situasi semakin riuh oleh pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) kepala daerah. Tidak saja Pilkada di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang mendapat porsi pemberitaan lebih dari media, tetapi di daerah-daerah lain para pendukung paslon tidak kalah riuh.
Selasa, 08 Oktober 2013 2 komentar

Bila Bos Media Jadi Presiden

Di Negeri #Jancukers belakangan ini profesi wartawan lebih diminati daripada PNS. Jurusan jurnalistik di kampus-kampus negerinisasi atau swastanisasi banyak diserbu para pencari status mahasiswa. Bahkan kampus-kampus berani membuka kelas sampai dua puluh sembilan kelas biar dapat anggaran gede buat beli kursi empuk rektor, yang katanya cuma diproduksi oleh home industri kampung China. Kampung yang sukses memberdayakan warganya dengan banyaknya UMKM yang tumbuh dan berkembang. penjual koran, penjaga warnet, karyawan koperasi, guru SMA berlomba-lomba ingin jadi wartawan. Tidak ketinggalan para ibu-ibu muda dua puluh sampai dua puluh lima tahunan sibuk belajar menulis biar bisa jadi wartawan, bersaing dengan anaknya yang duduk di bangku TK, yang juga harus pintar menulis biar bisa lulus tes Calistung dalam rangkaian Seleksi Nasional Masuk Sekolah Dasar favorit di masing-masing Negara mereka.
Senin, 22 Juli 2013 0 komentar

UU Ormas Disahkan, Tindak Tegas Ormas Bandel!

UU Ormas akhirnya telah disahkan beberapa waktu lalu setelah melalui perdebatan panjang. Wacana dibentuknya UU ini bukannya tanpa alasan, diera demokrasi saat ini ormas-ormas tumbuh dengan liar bak jamur di musim hujan setelah melalui kemarau panjang selama 32 tahun yang bernama Orde Baru. Seolah tanpa control, ormas-ormas ini bebas mengekspresikan apa yang mereka yakini benar dan bahkan cenderung kebablasan dalam memaknai kebebasan. Mungkin menurut mereka, secara sederhana demokrasi bisa diartikan sebagai kebebasan. Bebas menjalankan apa yang mereka anggap benar tanpa harus peduli di mana mereka berpijak. Akibatnya mereka secara sadar membatasi kebebasan orang lain dengan kebebasan mereka. Bebas merusak warung makan janda beranak lima karena bertentangan dengan paham mereka, bebas memblokir perempatan jalan hingga uang setoran sopir angkot berkurang karena macet, dan bebas berteriak sistem khilafah lebih baik dari ideologi bangsa kita yaitu Pancasila! Menolak Pancasila sama dengan menteror bangsa, dan harus ditanggapi serius tanpa upaya bercanda sedikitpun. Lahir dari demokrasi dan berniat mencederai demokrasi, itulah gambaran Ormas yang bisa dikatakan bandel akhir-akhir ini.
Sabtu, 20 Juli 2013 0 komentar

UU Ormas dan Kudeta Pancasila

Massa Ormas Islam menolak RUU Ormas
Penolakan dari lembaga swadaya masyarakat dan ormas mewarnai pengesahan RUU Ormas menjadi UU beberapa waktu lalu. RUU yang disiapkan sebagai pengganti UU No 8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan ini dianggap mengebiri kebebasan berserikat dan berkumpul diera demokrasi saat ini, serta membangkitkan trauma masyarakat terhadap pemerintahan otoriter orde baru. Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan (RUU Ormas) DPR Abdul Malik Haramain menjelaskan bahwa definisi ormas yang baru adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan apsirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan NKRI yang berdasarkan Pancasila. 
Jumat, 26 Oktober 2012 0 komentar

Aktivis Tidak Selalu Benar Seperti Dewa

Chaos: Demo aktivis mahasiswa di Bundaran Tugu  Kota Malang
Tragedi 98. Waktu itu usiaku masih 8 tahun dan dengan polosnya masih duduk manis di bangku SD. Diriku juga tak lebih baik dari teman-teman sebaya yang hanya mengerti tentang pelajaran di sekolah dan bagaimana cara bermain dengan teman yang baik dan benar. Aku masih belum mengerti waktu itu kenapa harga-harga barang menjadi sangat mahal. 
Sabtu, 07 Juli 2012 2 komentar

Sujiwo Tejo Calon Presiden 2014?

Presiden Republik Jancukers
Masih dua tahun lagi Pilpres 2014 apabila dihitung mulai dari sekarang yang baru menginjak tahun 2012. Cukup lama bagi masyarakat Indonesia yang “tidak tahu apa-apa”. Namun sebaliknya waktu yang singkat bagi elite politik untuk mempersiapkan segalanya. Ya, Pilpres 2014 hanyalah sebuah pertarungan politik saja! Pertarungan perlu dimulai jauh-jauh hari bila ingin memenangkannya. Mulai dari partai politik yang sibuk mempersiapkan calon serta membangun citranya, “membunuh” lawan politik, sampai pada persiapan yang tidak boleh diketahui masyarakat. semua itu dilakukan sejatinya tidak lebih untuk merebut simpati masyarakat, karena Negara kita ini telah menggunakan sistem demokrasi yang katanya dari rakyat untuk rakyat. 
Minggu, 01 Juli 2012 1 komentar

Presiden Urakan?


TIDUR: Gus Dur saat jadi
Presiden
Menarik ketika menyaksikan acara televisi, tanpa disengaja menemukan salah satu chanel yang tengah membahas permasalahan Negara. Memang cukup membosankan menyaksikan para elite poitik berdebat soal siapa yang benar dan siapa yang harus disalahkan dalam permasalahan Negara yang cukup kompleks dan tak kunjung terselesaikan ini. Tak ada bukti konkrit dari perdebatan itu yang benar-benar membuat masyarakat tersenyum bahagia. Secara telanjang terlihat bahwa mereka adalah elite politik yang dipenuhi simbol kemunafikan dan tak becus mengurusi negara, yang dikejar hanyalah kepentingan kelompok mereka saja. Tak pernah lelah mulutnya terus saja berusaha mengeluarkan rangkaian kata sediplomatis mungkin untuk membela diri atau kelompoknya dan menyerang kelompok lain yang dianggap sebagai rival. Berusaha menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka yang paling benar dan layak untuk menerima simpati masyarakat. Entah mereka sadari atau tidak bahwa permainan mereka sebenarnya harus untuk membahagiakan semua masyarakat yang bernapas di Negara Republik Indonesia.
Jumat, 29 Juni 2012 0 komentar

Harapan

Orang hidup harus punya harapan, apalah artinya hidup ketika tidak mempunyai harapan? Satu harapan tidak cukup! Kenapa? Harapan adalah tujuan yang ingin kita raih Masih sebatas keinginan dan belum terwujud. Tak bisa dibayangkan apabila satu-satunya harapan kita tidak bisa terwujud, dipastikan tidak ada harapan yang mengisi jiwa kita. Kosong! Oleh sebab itu alangkah lebih baik ketika memiliki lebih banyak harapan. Dalam artian apabila salah satu harapan kita tidak dapat diwujudkan, kita masih punya harapan lain untuk dikejar. Menaruh harapan lebih juga tidak baik, karena apabila tidak terwujud kita tidak bisa menerima dengan mudah. Kegagalan dan keberhasilan adalah bagian dari kehidupan. Setiap orang pasti akan menemuinya. Jalani saja kehidupan, tentunya dengan harapan. Pengalaman akan banyak membantu, karena perjalanan hidup adalah sebuah proses untuk masuk surga. 
Sabtu, 31 Maret 2012 2 komentar

Slengekan, Urakan Bukan Berarti Sampah!

Tulisan ini ditulis pada tahun 2012 di Negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang presiden bernama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden yang berwibawa, berkharisma, santun hingga mampu merebut hati banyak masyarakat Indonesia. Terbukti beliau mampu menjabat selama dua periode. Sejak menjabat sebagai presiden, SBY memang identik dengan istilah pencitraan. Selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya agar tidak salah langkah dan jatuh tersandung batu terkecil pun, karena jatuh akan berakibat pada luka goresan pada kulit. SBY tak mau kulitnya lecet sedikitpun, beliau ingin selalu terlihat tampan dengan kulit mulus tanpa cacat.
Senin, 05 Maret 2012 5 komentar

Soe Hok Gie – Kesepian Tanpa Cinta Seorang Perempuan

Galau: Gie sedang memikirkan cinta
Tanyakan saja ke teman – teman aktivis bila anda belum mengenalnya, pasti diantara penjelasan mereka tentang sosoknya terselip kalimat bahwa ia merupakan “aktivis mahasiswa idealis”. Memang demikian adanya. Setelah membaca buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran” yang berupa kumpulan catatan hariannya membuatku kagum tentang sosoknya. Ia memang dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang “rajin” menulis.

Aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) tapi anti PKI. Ia memang dibesarkan dari keluarga sosialis, mungkin hal itulah yang melatar-belakangi pemikirannya yang cenderung secular. Gerakannya banyak dilakukan lewat tulisan selain tentunya ia juga tak pernah lelah aktif di lapangan. Tulisan-tulisannya yang banyak berbentuk opini banyak menghiasi koran-koran nasional pada saat itu.
Minggu, 26 Februari 2012 0 komentar

Kaderisasi Partai Politik dan Omek

Sorak sorai masyarakat Indonesia penuh dengan buih kecewa keluar dari mulut tak kunjung pula lelah mencaci. Di sisi lain sebagian dari mereka terdiam pasrah tanpa bisa berbuat suatu apapun menyaksikan ulah Partai Politik yang sudah tak sesuai lagi dengan sistem politik impian mereka. Bicara politik dewasa ini sama dengan bicara tentang kebusukan bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tidak demikian halnya menurut orang – orang yang mempelajari ilmu tersebut. Lantas apa sebenarnya definisi politik itu sendiri? Menurut Filsuf Yunanh Kuno seperti Plato dan Aristoteles, mereka beranggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik. Usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik ini menyangkut bermacam macam kegiatan yang diantaranya terdiri dari proses penentuan tujuan dari sistem serta cara-cara melaksanakan tujuan itu[1]. Sistem politik tentunya tidak akan bisa jalan jika tanpa pelaku politik, pelaku inilah yang nantinya menjalankan sistem politik. Pelaku politik adalah orang – orang atau individu – individu yang memainkan peran dalam arena politik melalui organisasi, kelompok, lembaga ataupun suatu gerakan[2].
Rabu, 01 Februari 2012 0 komentar

Anas Urbaningrum Lebih Baik Buka Toko Kelontong

Anas Urbaningrum, saat namanya baru eksis di kancah perpolitikan Indonesia, banyak publik yang bangga dengan sosoknya. Politisi muda yang mampu mendobrak dominasi politisi – politisi tua yang tidak mau mengalah begitu saja. Baginya tidak ada kaitannya antara usia dengan karier atau jabatan. Ia juga dikenal sebagai figure yang cerdas dan kalem. Tapi juga bisa bersikap tegas dalam berbagai kesempatan. Pemikiran – pemikiran cerdasnya banyak dikeluarkannya baik lisan maupun tulisan. Teringat saat namanya masih tercatat sebagai anggota KPU, ia pernah berpendapat bahwa pemilu adalah sebuah kompetisi berbagai kekuatan politik. Maka dari itu pemilu harus membuka peluang terjadinya kompetisi yang fair dan transparan. “rakyat yang akhirnya akan memberikan penilaian, sebab rakyatlah juri yang paling adhl”[1]. Melihat dari pemikiran – pemikiran cerdasnya hingga mengantarkannya sebagai politisi yang layak diperhitungkan, tidak serta merta lahir begitu saja. Sebelumnya ia juga sempat berproses di berbagai macam organisasi selama ia menempuh studinya. Diyakini bahwa namanya hingga bisa eksis sampai sejauh ini tidak terlepas dengan perjuangannya yang idealis di organisasi – organisasi yang pernah dihidupinya. Sungguh politisi muda yang layak diapresiasi perjuangannya.
0 komentar

Organisasi Intra Itu OSIS

Bagi yang sedikit bernasib baik dengan pernah menikmati bangku sekolah formal jenjang SMP,SMA dan sejenisnya, jelas juga mengenal OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Nama yang wajib tertempel di saku seragam putih sebelah dada kiri. Entah siapa yang mempunyai ide cerdas dengan mencetuskan nama tersebut. Nama organisasi yang ternyata milik dan dijalankan oleh siswa – siswa sekolah formal tersebut. Wadah bagi siswa – siswa berpotensi yang masih mempunyai energy dan semangat juang tinggi untuk mengejar mimpi – mimpinya.
Minggu, 22 Januari 2012 1 komentar

Presiden

Suasana di kelas 2E SMP Negeri Lawak sedang gaduh ketika si guru agala itu bertanya kepadaku

“Apa cita – citamu kelak Gas ketika sudah gede?” Sambil berjalan dari arah depan kelas ke arahku yang duduk di bangku pojok belakang, ketika melihatku tidak serius memperhatikan pelajarannya.

“Ingin jadi presiden pak.” Jawabku dengan lugas.

“Anak – anak, pantas tidak orang seperti Lugas ini kelak menjadi Presiden?” Sambil tertawa terkekeh beliau bertanya kepada seluruh penghuni kelas dan secara tidak langsung bertanya pula ke diriku.
1 komentar

Omek Berlabel Islam dan Dekadensi Moral Mahasiswa

Sudah kesekian kali aku mendengar pacar temanku hamil ataupun temanku perempuan sendiri yang hamil tanpa melalui prosesi pernikahan terlebih dulu, sudah kesekian kali aku mendengar gadis yang katanya baik – baik sudah kehilangan kegadisannya. Seminggu yang lalu aku dengar kabar bahwa kawanku masuk penjara oleh karena kasus pencabulan anak di bawah umur. Tiga hari lalu kawanku tertangkap tangan polisi karena kedapatan mengkonsumsi ganja. Tadi malam aku lihat dua pemuda mabuk bertengkar memperebutkan satu gadis di simpang jalan. Yang satunya tewas dan satunya lagi masuk penjara. Rentetan peristiwa di atas, mengajak otakku terus berpikir, bahwa ada permasalahan besar yang disebut moral! Ya, dekadensi moral pemuda, khususnya mahasiswa, mengancam tumbuh kembangnya negeri ini. Membuatku semakin galau menatap kehidupan yang semakin absurd.
Jumat, 20 Januari 2012 0 komentar

Made In Indonesia and Public Figure

Made In Indonesia adalah istilah dari produk yang dibuat di Indonesia oleh orang - orang Indonesia. Saat masih kecil dulu, aku meragukan kualitas dari Made In Indonesia. Karena mainanku tidak ada yang bernama Made In Indonesia, semuanya bernama Made In China. Begitu pun saat aku lihat kompor minyak tanah ibu di dapur juga bernama Made In China. Meskipun aku lihat sendiri pabriknya yang berukuran kecil terletak di samping tempatku mengaji dan diproduksi oleh suami guru ngajiku. Aku sering memperhatikan proses produksi kompor itu selepas pulang ngaji di sore hari. Prosesnya sangat sederhana, dikerjakan dengan tangan tanpa mesin – mesin berat. Aku perhatikan juga orang – orangnya tak ada yang mirip sedikitpun dengan orang China, semuanya mirip orang Jawa. Setahuku dari peta yang dibelikan ayahku untuk pelajaran IPS di sekolah, bahwa Jawa adalah sebuah pulau yang terletak di Negara Indonesia. Tapi kenapa kompor itu bernama Made In China?
lugaswicaksono.blogspot.com
 
;