Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tengah malam selesai menulis dan mengirim berita tentang tewasnya tiga tentara tertimbun longsoran tanah di Dusun Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng aku membayangkan yang indah-indah. Aku membayangkan beritaku di koran esok akan dijadikan single fokus memenuhi HL 1. Aku lalu tidur bersama dua temanku lain di kamar kosku.
Pagi sekali aku bangun dari tidur dan langsung membeli koran karena saking penasarannya dengan pemberitaan tiga anggota tentara yang tewas. Eeehhhh... ternyata pemberitaan di koran tempat saya bekerja jauh dari ekspektasi. Memang muncul di HL 1 tetapi bukan single fokus dan hanya berita kecil saja yang seakan diselipkan di kiri bawah halaman.
Sore tadi menjelang Magrib aku sebenarnya sedang bersantai menonton televisi bersama seorang teman sembari minum kopi dan merokok di kamar kos pinggiran Kota Singaraja. Tetapi telepon dari seorang kolega membuyarkan kesantaianku yang belum sampai satu jam setelah kuselesai menulis berita untuk hari ini.
Kolegaku tadi mengabarkan tentang tiga anggota tentara yang tewas tertimbun longsor di Dusun Dasong, Desa Pancasari, Buleleng. Ah malasnya aku karena lokasi yang cukup jauh, sekitar 40 kilometer dari Kota Singaraja tempatku bermukim atau 1,5 jam perjalanan melintasi jalan perbukitan yang curam. Apalagi malam-malam dengan hawa yang dingin.
Kolegaku tadi mengabarkan tentang tiga anggota tentara yang tewas tertimbun longsor di Dusun Dasong, Desa Pancasari, Buleleng. Ah malasnya aku karena lokasi yang cukup jauh, sekitar 40 kilometer dari Kota Singaraja tempatku bermukim atau 1,5 jam perjalanan melintasi jalan perbukitan yang curam. Apalagi malam-malam dengan hawa yang dingin.
Senin, 28 November 2016
Story
0
komentar
Apa Kabar Korban Penggusuran dan Pembakaran di Danau Tamblingan?
Nengah Semen (62), seorang korban penggusuran Danau Tamblingan kini tinggal menumpang di rumah anaknya di Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng. Meski sudah lebih dari setahun berlalu, peristiwa penggusuran disertai pembakaran pasa 25 April 2015 lalu itu tidak akan pernah ia bisa lupakan.
Apa jadinya Nobita ya jika tanpa Doraemon? Pasti dia udah bunuh diri karena depresi akibat sering di bully Suneo dan Gian. Ditambah lagi, ia sering dicuekin sama Suzuka. Di film kartun Jepang yang aku sukai semasa kecil itu, Doraemon menjadi malaikat penyelamat bagi Nobita, si bocah cengeng yang tak bisa apa-apa.
Di Negeri #Jancukers belakangan ini profesi wartawan lebih diminati daripada PNS. Jurusan jurnalistik di kampus-kampus negerinisasi atau swastanisasi banyak diserbu para pencari status mahasiswa. Bahkan kampus-kampus berani membuka kelas sampai dua puluh sembilan kelas biar dapat anggaran gede buat beli kursi empuk rektor, yang katanya cuma diproduksi oleh home industri kampung China. Kampung yang sukses memberdayakan warganya dengan banyaknya UMKM yang tumbuh dan berkembang. penjual koran, penjaga warnet, karyawan koperasi, guru SMA berlomba-lomba ingin jadi wartawan. Tidak ketinggalan para ibu-ibu muda dua puluh sampai dua puluh lima tahunan sibuk belajar menulis biar bisa jadi wartawan, bersaing dengan anaknya yang duduk di bangku TK, yang juga harus pintar menulis biar bisa lulus tes Calistung dalam rangkaian Seleksi Nasional Masuk Sekolah Dasar favorit di masing-masing Negara mereka.
“Kurang apa bapakmu ini? Sampai hati kau melempar tahi ke mukaku. Dari kecil mana pernah aku ajari dirimu keburukan?! Meskipun aku perokok tak pernah kubiarkan kau merokok sambil mengenakan seragam sekolah. Meskipun aku sedang mabuk tak ajak kau sembahyang. Apalagi membuahi anak gadis orang, tak pernah dalam hidupku kuajarkan itu padamu. Tahu begini aku potong kemaluanmu dari kecil biar kau tak bisa buat malu keluargamu ini!”
![]() |
Chaos: Demo aktivis mahasiswa di Bundaran Tugu Kota Malang
|
Tragedi 98. Waktu itu usiaku masih 8 tahun dan dengan polosnya masih duduk manis di bangku SD. Diriku juga tak lebih baik dari teman-teman sebaya yang hanya mengerti tentang pelajaran di sekolah dan bagaimana cara bermain dengan teman yang baik dan benar. Aku masih belum mengerti waktu itu kenapa harga-harga barang menjadi sangat mahal.
Suasana di kelas 2E SMP Negeri Lawak sedang gaduh ketika si guru agala itu bertanya kepadaku
“Apa cita – citamu kelak Gas ketika sudah gede?” Sambil berjalan dari arah depan kelas ke arahku yang duduk di bangku pojok belakang, ketika melihatku tidak serius memperhatikan pelajarannya.
“Ingin jadi presiden pak.” Jawabku dengan lugas.
“Anak – anak, pantas tidak orang seperti Lugas ini kelak menjadi Presiden?” Sambil tertawa terkekeh beliau bertanya kepada seluruh penghuni kelas dan secara tidak langsung bertanya pula ke diriku.
“Apa cita – citamu kelak Gas ketika sudah gede?” Sambil berjalan dari arah depan kelas ke arahku yang duduk di bangku pojok belakang, ketika melihatku tidak serius memperhatikan pelajarannya.
“Ingin jadi presiden pak.” Jawabku dengan lugas.
“Anak – anak, pantas tidak orang seperti Lugas ini kelak menjadi Presiden?” Sambil tertawa terkekeh beliau bertanya kepada seluruh penghuni kelas dan secara tidak langsung bertanya pula ke diriku.
“Kok gak nanti sore sekalian datangnya mas, jam segini baru masuk?” komentar Dasamuka ketika baru melihat wajahku masuk ke dalam ruang kelas setelah dua puluh menit kuliah berjalan, ditambah dengan tatapan mata yang tajam dan raut wajah yang dingin duduk dibalik meja dosen menambah sangar perawakannya.
“Eeeeem… anu pak, tadi di parkiran sepeda motor mau masuk macet.” Alasan yang sering ku lontarkan ketika telat masuk kelas sambil berlalu kulangkahkan kaki menuju bangku di deretan paling belakang. Alasan yang masuk akal memang, karena di kampusku jumlah mahasiswa yang menggunakan sepeda motor sangat banyak, sedangkan juru parkirnya kewalahan dengan anggotanya yang sedikit. Tak terhindarkan lagi antrian panjang sepeda motor menjadi pemandangan yang biasa saat jam – jam masuk kuliah.
“Eeeeem… anu pak, tadi di parkiran sepeda motor mau masuk macet.” Alasan yang sering ku lontarkan ketika telat masuk kelas sambil berlalu kulangkahkan kaki menuju bangku di deretan paling belakang. Alasan yang masuk akal memang, karena di kampusku jumlah mahasiswa yang menggunakan sepeda motor sangat banyak, sedangkan juru parkirnya kewalahan dengan anggotanya yang sedikit. Tak terhindarkan lagi antrian panjang sepeda motor menjadi pemandangan yang biasa saat jam – jam masuk kuliah.
Bokep adalah sebuah film yang bertemakan sex. Dulu ketika aku pertama kali mengenalnya masih bernama BF (Blue Film). Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Bolos sekolah di pagi hari untuk kemudian pergi ke salah satu rumah teman yang lagi kosong karena ditinggal kedua orang tuanya bekerja dan adik – adiknya yang sibuk menuntut ilmu di sekolah. Menghabiskan waktu bersama sahabat yang berjumlah lima anak dengan drinking alcohol, smoking di depan sebuah layar televisi 21 inci menyaksikan sebuah tontonan menarik*yang bernama BF. Belajar berkenalan dengan vagina yang ternyata berbeda jauh bentuknya dengan penis namun sama – sama berbulu, payudara yang bentuknya sangat indah dan teman – teman sering meyebutnya gunung kembar, sperma yang menjijikkan, cara berciuman, cara memasukka penis ke lubang vagina, rintihan kenikmatan hingga penis kami ngaceng karenanya.
Dingin menggerayangi seluruh tubuhku, menerobos masuk hingga ke dalam tulang sumsumku ketika aku dengar suara adzan subuh berkumandang sejuk dari masjid tak jauh dari rumahku, kira – kira seratus meter sebelah utara tepat di pojok pertigaan. Terpaksa mataku terbuka mendengar seruanNya. Masih terbaring di atas kasur tak langsung bangkit, termenung membayangkan apa saja hal – hal yang akan kualami dalam hari ini sebelum aku menunaikan solat subuh.
Setelah melewati Ujian Nasional, Fawas berbekal nilai rata – rata yang sangat baik yakni 9, berencana ingin melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Termotivasi dengan kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru, ia memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan ia pun diterima di salah satu PTN ternama di kotanya.
Di atas white board ruang kelas salah satu gedung PTS di kota Malang, jarum jam menunjukkan pukul 11.10, menunjukkan jika kuliah statistic telah berakhir. Mata kuliah yang paling menyebalkan dari sekian banyak mata kuliah di jurusan ilmu social.
Wiwis melangkah keluar kelas menuju ke lantai 3.5 GKB 1 tempat biasa ia nongkrong menghabiskan waktu. Lantai yang terletak di antara lantai 3 dan 4.Tempat itu memang sengaja disediakan kampus sebagai tempat bersantai mahasiswa. Disitu disediakan banyak kursi dan meja yang berjejer rapi serta disediakan pula fasilitas pendukung seperti hotspot, mushola, beberapa kios yang menjual berbagai kebutuhan mahasiswa.
Gerimis masih saja turun di sore itu setelah hujan deras menyirami tanah kota Malang yang telah banyak dilapisi beton bangunan dan aspal. aku bersama Angel, teman perempuanku memutuskan pulang setelah berlama – lama berteduh di depan toko buku daerah Dieng, karena memang sore itu aku janjian untuk membeli buku. Setelah membayar uang parkir seribu rupiah, kutancapkan gas sepeda motorku. Roda sepeda yang sudah mulai halus menyusuri aspal yang basah.
Langganan:
Postingan (Atom)










- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact