Minggu, 26 Februari 2012

Kaderisasi Partai Politik dan Omek

Sorak sorai masyarakat Indonesia penuh dengan buih kecewa keluar dari mulut tak kunjung pula lelah mencaci. Di sisi lain sebagian dari mereka terdiam pasrah tanpa bisa berbuat suatu apapun menyaksikan ulah Partai Politik yang sudah tak sesuai lagi dengan sistem politik impian mereka. Bicara politik dewasa ini sama dengan bicara tentang kebusukan bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tidak demikian halnya menurut orang – orang yang mempelajari ilmu tersebut. Lantas apa sebenarnya definisi politik itu sendiri? Menurut Filsuf Yunanh Kuno seperti Plato dan Aristoteles, mereka beranggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik. Usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik ini menyangkut bermacam macam kegiatan yang diantaranya terdiri dari proses penentuan tujuan dari sistem serta cara-cara melaksanakan tujuan itu[1]. Sistem politik tentunya tidak akan bisa jalan jika tanpa pelaku politik, pelaku inilah yang nantinya menjalankan sistem politik. Pelaku politik adalah orang – orang atau individu – individu yang memainkan peran dalam arena politik melalui organisasi, kelompok, lembaga ataupun suatu gerakan[2].

Dalam konteks politik Indonesia, sekilas kelahiran pelaku politik (politisi) berasal dari rahim Partai Politik yang merupakan salah satu bagian dari organisasi politik. Tujuan dibentuknya Partai politik dalam UU No.2/2008 salah satu diantaranya adalah sebagai sarana Pendidikan Politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara[3]. Tujuan yang cukup mulia sebenarnya telah diatur dalam undang – undang untuk memberikan pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat, biasa disebut dengan sistem kaderisasi. Sistem inilah yang nantinya melahirkan kader – kader partai yang siap terjun di dunia politik. Layak tidaknya kader – kader partai bermain politik dalam mengurusi Negara adalah cermin dari kualitas sistem kaderisasi partai itu sendiri.

Lihatlah sekarang politisi – politisi itu, apakah mereka layak mengurusi Negara? Sebagian besar dari masyarakat Indonesia dipastikan menilai sebagian besar dari politisi yang merupakan kader – kader partai politik tidak layak untuk mengurusi Negara tanpa hasil survey sekalipun. Sistem kaderisasi-lah yang harus dipertanggung jawabkan dalam realitas ini. Partai politik lebih asyik main comot tokoh politik yang dianggap potensial dan menguntungkan bagi partainya untuk kemudian didudukkan dalam struktur hirarki tertinggi tanpa harus memulai dari bawah terlebih dahulu, dari pada capek – capek mengelola sistem kaderisasi. Sedangkan kader partai yang memulai dari struktur yang paling bawah? Dampaknya dalam memainkan perannya sebagai politisi, kader – kader instant Partai Politik ini tidak cukup mampu memahami keinginan sesungguhanya Partai Politik yang biasa disebut dengan ideology dan diterjemahkan melalui visi misi Partai Politik. Dalam politik, kepentingan-lah yang memiliki kuasa penuh.

Ironisnya, sistem kaderisasi instant seperti inilah yang banyak dicontoh oleh organisasi – organisasi massa yang menerapkan sistem kaderisasi. Realitasnya bersikap pragmatis ternyata memang lebih enak dari pada idealis. Dari salah satunya yang terlihat mirip dengan partai politik adalah Omek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus). Sekilas Omek bisa dikatakan sebagai miniature Partai Politik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus. Tak tahu pasti apa sebenarnya tujuan dari Omek itu sendiri, yang pasti setiap dari mereka mempunyai ideology yang berbeda pula satu dengan yang lain. Dalam menjalankan roda organisasi mereka juga menerapkan sistem kaderisasi. Dari Omek-lah lahir aktivis mahasiswa yang sering kita saksikan mereka berdemonstrasi, berteriak lantang di tengah jalan di bawah terik matahari berharap didengar pemerintah, itulah ciri khas mereka ketika ada dari kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan keinginan mereka. Gerakan yang sekilas terlihat tulus.

Banyak pihak yang menilai aktivis mahasiswa adalah civil society yang masih “perawan”. Dengan idealismenya tak mudah kepentingan – kepentingan politik masuk di dalamnya. Tapi itu katanya orang – orang, dan saya juga tidak cukup bukti untuk menyebut mereka tidak seperti itu. Pendidikan politik mahasiswa salah satunya melalui Omek selain mereka mendapatkannya dari mata kuliah yang diajarkan. Mempraktekkan langsung dengan memainkan perannya sebagai “partai politik” kampus. Ketangkasan mereka dalam bermain politik bisa kalian saksikan sendiri ketika musim Pemilu Raya Kampus. semoga mereka tidak “setangkas” politisi Indonesia sesungguhnya, karena kampus lebih terlihat indah dijadikan tempat belajar saja. Jikalau mereka (aktivis) telah tangkas bermain politik, dikhawatirkan masyarakat dalam hal ini juga mahasiswa diluar aktivis akan bersikap apatis dengan kehadiran mahasiswa aktivis.

Tidak menjadi soal apabila aktivis mahasiswa belajar politik yang baik dan benar sesuai dengan ilmu politik itu sendiri, dan dengan begitu akan menjadi teladan bagi yang lainnya. Khawatirnya mahasiswa dengan banyak mengkritisi politisi – politisi yang kurang baik akan secara tidak langsung ikut terpengaruh dengan gaya berpolitik mereka pula. Sangat disayangkan apabila dalam menjalankan Omek, aktivis – aktivis mahasiswa mempraktikkan permainan politik busuk dengan membawa kepentingan pribadi yang berpotensi merusak organisasi mereka sendiri. Sistem kaderisasi berperan penting di sini dalam mendidik kader – kader Omek. Apakah kaderisasi sudah berjalan dengan baik dan terstruktur secara hierarki? Ataukah hanya asal main comot seperti yang dipraktikkan Partai Politik dewasa ini? Apalah artinya dijalankannya kaderisasi dengan kegiatan – kegiatan yang melelahkan bertahun – tahun lamanya sendainya dalam praktiknya hanya asal main comot anak kemarin sore untuk kedudukan – kedudukan penting. Persoalan sensitive karena kalau hanya ditingkatan Omek yang hanya untuk mahasiswa ingusan, mereka tidak terlalu butuh kedudukan, tapi lebih pada proses pembelajaran. Jika ingin belajar saja masih diajari dan ditunjukkan sesuatu yang tidak sesuai, jangan salahkan jika nanti besarnya jadi politisi yang tidak baik pula. Alangkah indahnya jika di lingkungan kampus sebaiknya hanya untuk suasana belajar saja. Jika ingin berpolitik lebih baik kuliah dulu yang rajin dan belajar ilmu politik dengan bersungguh-sungguh agar dapat memahami sepenuhnya. Kemudian setelah lulus kuliah baru mempraktikkannya di lingkungan yang sesungguhnya.


[1] http://carapedia.com/pengertian_definisi_politik_menurut_para_ahli_info483.html
[2] http://www.scribd.com/doc/69280719/12/INDIVIDU-INDIVIDU-SEBAGAI-PELAKU-POLITIK
[3] http://jakarta45.wordpress.com/2009/01/06/7-tujuan-partai-politik-uu-no-22008/

0 komentar:

Poskan Komentar

lugaswicaksono.blogspot.com
 
;