Minggu, 27 November 2016

Ketut Sekar Pengrajin Wayang Kulit di Desa Nagasepaha Rindu Dikunjungi Turis

Ketut Sekar (67) dengan telaten mewarnai wayang kulit Kresna di teras rumahnya di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepaha, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Kamis (24/11). Ia penuh hati-hati menggoreskan tinta kuning di sela ukiran wajah Kresna.

Sudah 50 tahun pria renta ini menjadi pengrajin wayang kulit sejak beralih dari pelukis wayang kaca yang telah ditekuninya sejak kecil. Ketika itu ia memutuskan beralih karena matanya sudah tidak tahan mengkukir wayang di atas kaca dengan jarak mata dengan kaca yang cukup dekat.


Meski begitu tetap saja ia adalah seorang seniman wayang. Darah seniman wayang mengalir ke dirinya dari ayahnya yang seorang dalang dan perintis seni lukis kaca, Jro Dalang Diah dan kakeknya, Pan Gede Wenten.

Ketut Sekar mendalang wayang kulit karyanya di rumahnya di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepaha, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Jumat (25/11/2016).

Bagi Sekar tidak mudah untuk terus konsisten menjadi pengrajin wayang sampai puluhan tahun. Ia sempat terpuruk ketika peristiwa Bom Bali II di Kuta pada 2002 lalu. Rumahnya sekaligus tempat pembuatan wayang yang sebelumnya banyak dikunjungi turis, sejak itu kunjungan turis ke rumahnya berangsur menurun dan kini sama sekali tidak ada turis yang mengunjungi rumahnya.

Pengrajin wayang tertua di Nagasepaha ini mengaku rindu dengan kunjungan turis ke rumahnya. Tidak saja karena mereka banyak membeli wayang karyanya, tetapi juga ia rindu mendalang di hadapan turis yang berkunjung ke rumahnya.

“Kalau dulu turis-turis sering kesini, tapi sejak ada bom di Kuta dulu berangsur sepi, sekarang gak ada turis kesini. Biasanya kalau turis kesini saya mendalang sebentar,” ucapnya.

Sekar sedang melukis wayang kulit di teras rumahnya.
Kini pesanan wayang kulit yang diterimanya tidak seramai dulu, ia kini hanya mendapatkan pesanan pembuatan wayang dari dalang-dalang di Buleleng saja. Seperti wayang Kresna yang dikerjakannya merupakan pesanan Jro Dalang Sidya asal Desa Suwug.

“Saya terkendala pemasaran, tidak tahu bagaimana memasarkan, sepi sekarang gak ada turis yang pesan, yang pesan sekarang cuma sebatas dalang-dalang saja, banyak seniman wayang yang juga demikian,” ungkapny
Satu wayang kulit bisa dikerjakannya sampai lima hari karena cukup rumit. Kulit sapi yang didapatkannya disketsa dengan bentuk wayang, setelah itu diukir yang butuh waktu sampai dua hari, dan pengecatan yang juga butuh waktu dua hari. Menurut dia, pengukiran merupakan tahap pembuatan yang paling rumit.

Satu wayang Kresna berukuran 45 sentimeter yang dibuatnya itu dihargainya Rp 450 ribu. Harga wayang yang dibuatnya bervariasi bergantung ukuran dan tingkat kerumitan, mulai Rp 350 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Ia berharap semakin banyak yang memesan wayang kulit karyanya, termasuk turis-turis yang dirindukannya untuk datang ke rumahnya. Selama ini Desa Nagasepaha dikenal sebagai sentra pembuatan wayang kulit dan wayang kaca. (gas)

2 komentar:

Made Jayadi mengatakan...

Wayangnya bagus dan menarik

Baskara Adhita mengatakan...

Tidak diberi alamatnya?

Posting Komentar

lugaswicaksono.blogspot.com
 
;